Dalam ilmu Fisika, air sering menjadi bahan pengamatan. Sebagai fenomena, air ada yang mengalir dan ada yang diam. Air adalah potensi yang dipunyai alam, dengannya dapat mendukung adanya kehidupan. Dalam rupa apapun, air memang mempunyai energi! Air yang mengalir dapat menghasilkan energi kinetik, begitu pula air yang diam memendam bongkahan energi potensial. Semakin banyak air dalam tempat tertentu, maka semakin besar potensi energinya. Tidak terkecuali apabila kita melihat air dalam sebuah “bejana”.
Komunikasi tidak bedanya seperti air! Tak percaya? Mari kita coba analisis. Sebagaimana hukum alam, air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah! Kalau sejatinya air mengalir seperti itu, lantas dapatkah air mengalir ke tempat yang lebih tinggi? Jawabannya bisa, tetapi harus ada energi yang mendorongnya. Ibarat mesin pompa, ia merupakan alat penghasil energi yang memindahkan air dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi, atau pun air berada dalam ketinggian tempat yang sama ke jarak yang lebih jauh. Merubah energi potensial menjadi energi kinetik itu juga memerlukan energi?
Lantas bagaimana kaitannya antara logika air  di atas dengan komunikasi? Mari kita sejenak melihat kebelakang, apa itu komunikasi dan bagaimana terjadinya. Dari perspektif teori, paling tidak ada beberapa sarat supaya komunikasi itu terjadi yaitu; ada dua pihak yang berkomunikasi, ada pesan yang disampaikan, ada alat penyampai pesan yang digunakan. Dalam perspektif personal, komunikasi berdampak kepada proses internal seseorang, baik fisik maupun psikis. Darinya, akan melahirkan suatu pensikapan maupun prilaku.
Sejatinya, komunikasi yang efektif seperti air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Dalam perspektif sosial, analogi ini mencerminkan proses komunikasi antar kelas sosial. Sebagai contoh misalnya petinggi adat atau kepala suku atau orang yang secara status sosialnya lebih tinggi, akan mudah memberikan atau memindahkan pesannya kepada orang yang status sosialnya yang lebih rendah. Dia tidak memerlukan alat yang canggih untuk memindahkan pesannya. Cukup memakai “slang” yang sederhana, dan pesannya akan mengalir. Semakin jauh antara posisi sosial dua pihak yang berkomunikasi, maka akan semakin efektif komunikasi yang dilakukannya. Dalam konteks ini, komunikasi yang efektif disebabkan oleh gaya “gravitasi pesan” yang besar!
Alih-alih, dalam penerapannya kepada proses mencari ilmu (ta’lim muta’alim), hal inipun dapat diguna pakai. Sebaiknya, posisi murid harus memposisikan lebih rendah dalam konteks menerima ilmu. Dan posisi guru harus memposisikan lebih tinggi daripada muridnya. Maksud tersebut, bukan berarti guru menjadi lebih arogan dan murid menjadi lebih kecingan. Tetapi, maksud itu menggambarkan proses bagaimana ilmu akan mengalir dari guru kepada muridnya. Posisi murid yang sombong (merasa lebih tinggi “pintar” dari gurunya) akan sulit menerima ilmu. Begitu pula keadaan guru yang merasa rendah, akan sulit memompa ilmu kepada muridnya.
Setelah kita tahu, mengalirnya komunikasi dari atas ke bawah, maka analisis selanjutnya adalah kebalikannya. Air mengalir dan berpindah dari bawah ke atas! Untuk lebih memahami bagaimana analogi ini diguna pakai, kita bisa lihat dalam komunikasi politik. Dalam struktur politik, rakyat menempati posisi yang penting. Dia bisa merubah keadaan, apabila kemauannya dikomunikasikan dengan baik. Dalam konteks peradaban demokrasi yang sudah maju, pesan rakyat sangatlah diperhatikan. Bagaimanapun caranya! Apalagi kehadiran teknologi informasi dapat membantu memindahkan pesan di bawah kepada institusi politik di atasnya. Memanfaatkan teknologi informasi bagaikan kita memanfaatkan pompa air!
Memakai pompa dalam memindahkan air memang memerlukan biaya. Begitu juga dalam struktur politik yang menggunakan teknologi informasi atau alat lainnya dalam memompa pesan dari bawah ke atas, pun memerlukan biaya. Masalahnya adalah, dalam konteks keperluan struktur politk di atas yang memerlukan pesan khusus dari bawah, sebut saja “pemilu”, semakin banyak air yang mau dipindahkan ke tempatnya, maka semakin besar biayanya! Oleh karena itu, sebenarnya ada peluang dengan biaya yang murah, dengan cara mempersempit jurang ketinggian struktur politik. Dalam istilah lain, jadilah poltikus yang merakyat, turun ke bawah! Dengan begini biaya “pompa” bisa ditekan lebih banyak!
Selanjutnya adalah, memindahkan air dari tempat yang sama tetapi jaraknya cukup jauh! Analogi ini dapat diguna pakai oleh perusahaan yang melakukan komunikasi pemasaran. Berdasarkan tujuan pindahnya air, pesan dapat dipompa sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Semakin besar harapan pesan itu sampai kepada target tujuan, apalagi dalam waktu yang singkat, maka resiko yang muncul adalah tingginya biaya pemasaran. Sebenarnya, ada beberapa kiat yang bisa dilakukan, agar biaya tidak terlalu tinggi tetapi pesan sampai sesuai harapan! Mungkin “gerilya marketing” dapat dijadikan alternatif!
Dari beberapa analogi di atas, maka dapat diketahui bahwa teori air dalam bejana dapat diadopsi bagi menganalisis kemungkinan komunikasi yang terjadi. Semakin banyak analogi yang dieksplor, maka akan semakin banyak variasi adopsi yang disajikan. Dari situ akan muncul berbagai alternatif komunikasi yang sejatinya sesuai dengan kehendak hukum alam! Semoga…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar